Ketika Pelayan Ingin Merampas Mahkota Raja
Ada kesombongan yang tidak membuat seseorang berbicara dengan suara keras.
Ia tidak membuat dada membusung atau kepala terangkat tinggi.
Bahkan, sering kali ia membuat seseorang tampak semakin rendah hati.
Ia tidak meminta disanjung.
Ia hanya meminta satu hal yang jauh lebih berbahaya.
![]() |
| Ketika Pelayan Ingin Merampas Mahkota Raja |
Ia ingin semua yang dipikirkannya dianggap sebagai kebenaran.
Kesombongan semacam ini hampir tidak pernah dikenali oleh pemiliknya. Sebab ia tidak datang membawa wajah keburukan. Ia datang mengenakan pakaian yang paling dihormati manusia. Ia dapat menyusup ke dalam ilmu, ibadah, pengalaman, perjuangan, bahkan niat yang pada awalnya tulus.
Bukan karena semua itu salah.
Justru karena semua itu baik.
Sesuatu yang baik selalu menjadi tempat persembunyian yang paling aman bagi ego.
Tidak ada orang yang sengaja meminum racun ketika botolnya bertuliskan "racun". Tetapi banyak orang meminumnya ketika botol itu diberi label "madu". Ego memahami hal itu. Karena itu ia jarang mengajak manusia mencintai keburukan. Ia hanya mengajak manusia mencintai dirinya sendiri, lalu perlahan meyakinkan bahwa apa pun yang berasal dari dirinya pasti berasal dari Tuhan.
Sejak saat itu doa mulai berubah.
Bukan lagi menjadi tempat seorang hamba mengakui keterbatasannya, melainkan ruang untuk memastikan bahwa langit akan menyetujui semua keinginannya.
Yang berubah bukanlah cara berdoanya.
Yang berubah adalah posisi hatinya.
Ia tidak lagi berdiri di hadapan Tuhan sebagai seorang pencari petunjuk.
Ia mulai berdiri sebagai seseorang yang merasa petunjuk harus mengikuti langkahnya.
Mungkin itulah sebabnya manusia lebih mudah meminta agar jalan hidupnya diberkahi daripada meminta agar dirinya diperbaiki.
Lebih mudah berkata, "Ya Allah, mudahkan rencanaku," daripada berkata, "Ya Allah, jika rencanaku keliru, patahkanlah ia dan tunjukkan jalan yang lebih Engkau ridai."
Padahal seseorang yang benar-benar mencintai kebenaran tidak takut jika ternyata ia harus mengubah pendapatnya.
Karena yang ia bela bukan dirinya.
Melainkan kebenaran itu sendiri.
Sebaliknya, ego selalu melakukan hal yang berbeda.
Ia tidak mengubah dirinya agar sesuai dengan kebenaran.
Ia mengubah cara memandang kebenaran agar tetap sesuai dengan dirinya.
Seperti seseorang yang memiliki kompas, tetapi setiap kali jarumnya menunjukkan arah yang tidak ia sukai, ia memutar petanya. Lalu dengan tenang berkata bahwa kompas itu selalu membenarkan jalannya.
Masalahnya bukan kompas itu rusak.
Masalahnya karena ia tidak pernah benar-benar ingin mengetahui arah.
Ia hanya ingin arah mengikuti dirinya.
Begitulah ego bekerja.
Ia tidak pernah berkata, "Aku ingin menjadi Tuhan."
Kalimat itu terlalu kasar.
Terlalu mudah dikenali.
Yang ia bisikkan jauh lebih halus.
"Cukuplah Tuhan selalu membenarkan apa yang aku inginkan."
Di situlah doa perlahan berubah menjadi tuntutan.
Agama berubah menjadi identitas.
Dan kebenaran berubah menjadi sesuatu yang dianggap milik kelompok, bukan lagi cahaya yang dapat menegur siapa pun yang berada di bawahnya.
Padahal cahaya tidak pernah memilih wajah siapa yang akan diterangi.
Ia juga tidak pernah menolak memperlihatkan debu yang menempel pada cermin yang paling bersih.
Semakin dekat seseorang kepada cahaya, seharusnya semakin banyak ia melihat kekurangan dirinya.
Bukan semakin yakin bahwa hanya dirinya yang bercahaya.
Ironisnya, manusia sering lebih rajin membawa cermin untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri.
Setiap membaca tentang kesombongan, ia teringat tetangganya.
Setiap mendengar tentang kemunafikan, ia teringat kelompok lain.
Setiap membaca tentang dosa, ia selalu menemukan wajah orang lain.
Kecuali wajahnya sendiri.
Mungkin karena cermin itu diam-diam telah berubah menjadi jendela.
Ia tidak lagi dipakai untuk melihat ke dalam.
Ia dipakai untuk mengawasi ke luar.
Padahal kebenaran selalu memulai pekerjaannya dari dalam hati sebelum sampai kepada lisan.
Karena itu orang yang paling dekat dengan kebenaran bukanlah orang yang paling sering menang dalam perdebatan.
Melainkan orang yang paling mudah berkata, "Mungkin aku keliru."
Kalimat itu tidak lahir dari kelemahan.
Justru ia lahir dari keberanian.
Sebab hanya hati yang kuat yang sanggup menerima kemungkinan bahwa dirinya belum selesai belajar.
Sedangkan ego selalu merasa lulus, bahkan sebelum ujian dimulai.
Mungkin penyembahan berhala yang paling sulit dikenali bukanlah ketika manusia bersujud kepada patung.
Melainkan ketika ia menjadikan pendapatnya sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh koreksi.
Lalu setiap kali pendapat itu dipertanyakan, ia merasa seolah Tuhan sedang dipertanyakan.
Padahal yang sedang dipertahankan belum tentu firman Tuhan.
Bisa jadi hanya pendapat manusia yang terlalu lama tinggal di dalam kepalanya.
Pada akhirnya, ukuran kedewasaan iman bukanlah seberapa sering kita merasa dibenarkan.
Melainkan seberapa siap kita dibenarkan oleh kebenaran, meskipun itu mengharuskan kita mengakui kesalahan sendiri.
Sebab ego tidak pernah benar-benar ingin duduk di singgasana Tuhan.
Ia hanya ingin singgasana itu selalu menghadap ke arah dirinya.
Baca Juga Artiker Menarik Lainnya :
- Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
Dan mungkin, doa yang paling menyelamatkan bukanlah, "Ya Allah, kabulkan semua keinginanku."
Melainkan,
"Ya Allah, jangan biarkan aku mencintai pendapatku melebihi cintaku kepada kebenaran. Jika aku salah, berilah aku keberanian untuk melihatnya. Jika aku benar, jauhkan aku dari kesombongan karena merasa memilikinya."

Posting Komentar untuk "Ketika Pelayan Ingin Merampas Mahkota Raja"