Cara Memandang Kebaikan Yang Kehilangan Keselarasannya
Ketika Kebaikan Kehilangan Pasangannya
Tidak semua bunga gugur karena musim.
Ada yang layu sebab hanya satu langit yang bersedia menurunkan hujan.
![]() |
| Ketika Kebaikan Kehilangan Pasangannya |
Begitulah sebagian hati. Bukan karena ia tak pandai mencinta, melainkan karena cintanya tumbuh di tanah yang tak pernah ingin memeliharanya.
Maka jangan terburu-buru menyalahkan cinta ketika ia meninggalkan luka. Sebab sering kali yang terluka bukan cinta itu sendiri, melainkan harapan yang berjalan sendirian.
Embun tidak pernah menuntut daun untuk memantulkan keindahannya. Ia tetap turun setiap pagi dengan diamnya. Namun, bila matahari tak lagi memberi kesempatan, embun pun perlahan menghilang tanpa sempat dikenang.
Demikian pula kasih sayang.
Ia lahir bukan untuk dipertontonkan, melainkan untuk menemukan rumahnya.
Sebab kasih yang terus mengetuk pintu yang tak pernah dibuka, lambat laun akan belajar bahwa tidak semua rumah diciptakan untuk ia tinggali.
Ada yang mengira luka berasal dari perpisahan.
Padahal, luka yang paling sunyi adalah ketika seseorang masih berada di sampingmu, tetapi jiwanya telah lama berjalan ke arah yang lain.
Di situlah perhatian berubah menjadi penantian.
Pengertian berubah menjadi kesabaran yang tak bertepi.
Kepercayaan berubah menjadi doa yang hanya diaminkan oleh satu hati.
Maka bukan karena mencintai itu keliru.
Bukan pula karena memaafkan itu kelemahan.
Yang membuat semuanya terasa sia-sia ialah ketika setiap langkah hanya meninggalkan satu jejak.
Burung terbang dengan dua sayap.
Perahu melintasi lautan dengan dua dayung.
Langit dan bumi saling menyempurnakan hadirnya siang dan malam.
Semesta seakan mengajarkan satu rahasia yang sederhana: tidak ada keseimbangan yang dibangun oleh satu sisi saja.
Begitu pula sebuah hubungan.
Ia tidak meminta siapa yang paling banyak memberi.
Ia hanya membutuhkan dua hati yang sama-sama memilih untuk tetap tinggal.
Betapa banyak manusia menghabiskan usianya mengejar balasan dari makhluk, hingga lupa bahwa ketulusan tidak pernah kehilangan nilainya di sisi Allah.
Walaupun tak ada manusia yang menghargainya.
Walaupun tak ada yang membalasnya.
Sebab amal yang lahir dari hati yang bersih tidak diukur oleh tepuk tangan manusia, tetapi oleh Dzat yang mengetahui isi dada.
Karena itu, jangan menyesali ketulusanmu.
Yang perlu disesalkan hanyalah ketika ketulusan itu membuatmu lupa menjaga harga dirimu.
Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling pandai mencintai.
Melainkan tentang kepada siapa cinta itu dititipkan.
Sebab hujan yang sama dapat menumbuhkan taman di satu tempat, dan hanya menjadi genangan di tempat yang lain.
Begitu pula hatimu.
Di tangan yang tepat, ia akan menjadi ketenangan.
Di tangan yang salah, ia hanya akan menjadi cerita tentang penantian yang terlalu panjang.
Mungkin itulah mengapa Allah tidak menjadikan hubungan berdiri di atas satu kata "cinta", melainkan di atas satu kata yang lebih kokoh, lebih sunyi, dan lebih berat maknanya.
Saling.
Sebab hanya ketika dua hati sama-sama berjalan, perjalanan itu layak disebut pulang.

Posting Komentar untuk "Cara Memandang Kebaikan Yang Kehilangan Keselarasannya"