Bagaimana Cara Mendidik Anak Di Zaman Sekarang ?

Tiga Tahap Mendidik Anak : Merajakan, Membentuk, lalu Bersahabat

Oleh: Harmov

Ada sebuah nasihat yang populer dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib tentang tiga tahap mendidik anak: tujuh tahun pertama perlakukan ia seperti raja, tujuh tahun kedua seperti tawanan, dan tujuh tahun ketiga seperti sahabat.

Tiga Tahap Mendidik Anak : Merajakan, Membentuk, lalu Bersahabat
Tiga Tahap Mendidik Anak : Merajakan, Membentuk, lalu Bersahabat


Nasihat ini telah lama beredar dan menjadi bahan renungan banyak orang tua. Namun setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Anak-anak dahulu tumbuh dengan halaman rumah, permainan tradisional, buku dan teman sebaya. Anak-anak hari ini tumbuh bersama internet, handphone, media sosial, gim, kecerdasan buatan, dan dunia digital yang nyaris tidak mengenal pintu untuk diketuk.

Karena itu, bukan nasihatnya yang harus kita tinggalkan. Kitalah yang perlu memahami maknanya sesuai zaman.

Sebab mendidik anak bukanlah pekerjaan memindahkan masa lalu ke masa depan. Ia adalah seni menanam nilai-nilai lama yang baik, agar tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.

1. Usia 0–7 Tahun: Merajakan Anak dengan Cinta

Tujuh tahun pertama adalah masa ketika dunia seorang anak sebenarnya sangat sederhana.

Dunia itu adalah ayahnya.

Dunianya adalah ibunya.

Rumahnya adalah istana kecil tempat ia belajar tentang rasa aman, kasih sayang, kepercayaan, dan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan manusia lainnya.

Karena itu, merajakan anak bukan berarti memenuhi setiap keinginannya.

Merajakan berarti membuatnya merasa berharga.

Ketika ia jatuh, ada tangan yang mengangkatnya.

Ketika ia takut, ada dada yang menjadi tempat berlindung.

Ketika ia bertanya, ada telinga yang bersedia mendengar.

Ketika ia gagal, ada suara yang berkata, “Tidak apa-apa, coba lagi.”

Pada fase ini, jangan terlalu tergesa-gesa menjadikan anak seperti orang dewasa.

Biarkan ia bermain.

Biarkan ia berlari.

Biarkan ia bertanya tentang hal-hal yang bagi kita terlihat sederhana.

Sebab bermain bagi anak bukan sekadar menghabiskan waktu. Di dalam permainan, ia sedang membangun dunianya.

Namun zaman sekarang menghadirkan satu tantangan yang dahulu tidak sebesar ini: layar.

Handphone dapat menjadi alat belajar, hiburan, bahkan jendela menuju pengetahuan. Tidak ada yang salah dengan teknologi itu sendiri.

Tetapi seorang anak yang kita rajakan tetap membutuhkan penjaga.

Raja kecil tidak boleh dibiarkan tenggelam di dalam kerajaannya sendiri.

Memberikan handphone bukan berarti memberikan kebebasan tanpa arah. Anak tetap membutuhkan batas, pendampingan, dan terutama kehadiran orang tua.

Jangan sampai kita memberikan layar hanya agar anak diam, sementara tanpa sadar kita sedang kehilangan kesempatan untuk mengenal isi kepalanya.

Karena anak mungkin akan lupa video apa yang pernah ia tonton.

Tetapi ia akan mengingat bagaimana rasanya ketika ayah dan ibunya benar-benar hadir untuknya.

2. Usia 7–14 Tahun: Membentuk dengan Aturan dan Ketegasan

Memasuki usia tujuh tahun, dunia anak mulai berubah.

Ia mulai mengenal tanggung jawab.

Mulai memahami konsekuensi.

Mulai mengenal persaingan.

Mulai mengenal bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Inilah waktunya pagar mulai dibangun.

Nasihat populer tersebut menggambarkan fase ini dengan ungkapan “seperti tawanan.” Tentu bukan berarti anak harus dikekang tanpa kasih sayang. Maknanya lebih tepat direnungkan sebagai masa pembentukan disiplin dan batas.

Pohon yang masih muda membutuhkan penyangga agar tumbuh tegak.

Begitu pula anak.

Ia perlu tahu kapan harus bermain dan kapan harus belajar.

Kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.

Kapan boleh menggunakan handphone dan kapan harus meletakkannya.

Kapan boleh mengikuti keinginan dan kapan harus menerima kata tidak.

Di sinilah orang tua sering diuji.

Karena mengatakan “iya” terkadang jauh lebih mudah daripada mengatakan “tidak.”

Tetapi tidak semua yang membuat anak senang adalah sesuatu yang membuatnya baik.

Anak mungkin ingin terus bermain gim.

Ingin terus menonton video.

Ingin memiliki handphone terbaru.

Ingin mengikuti semua yang dilakukan teman-temannya.

Tugas orang tua bukan memusuhi semua itu, tetapi mengajarkan anak bagaimana menggunakannya tanpa diperbudak olehnya.

Ajarkan bahwa handphone adalah alat, bukan tuan.

Ajarkan bahwa internet adalah lautan pengetahuan, tetapi lautan juga memiliki arus yang dapat menyeret orang yang tidak tahu cara berenang.

Ajarkan anak untuk bertanya:

“Apakah ini baik untukku?”

bukan hanya:

“Apakah ini menyenangkan?”

Sebab disiplin yang ditanamkan hari ini adalah kebebasan yang akan menyelamatkannya di masa depan.

3. Usia 14–21 Tahun: Menjadi Sahabat, Bukan Sekadar Pengawas

Kemudian anak memasuki masa ketika ia mulai mencari dirinya sendiri.

Ia bukan lagi anak kecil yang selalu menerima jawaban dari orang tua.

Ia mulai memiliki pendapat.

Memiliki pilihan.

Memiliki rahasia.

Memiliki mimpi.

Bahkan mungkin memiliki pandangan yang berbeda dengan orang tuanya.

Di sinilah seni menjadi orang tua semakin sulit.

Karena kita harus belajar mengurangi genggaman tanpa mengurangi kasih sayang.

Pada usia ini, anak membutuhkan orang tua yang dapat menjadi sahabat.

Bukan berarti semua kesalahannya dibiarkan.

Bukan berarti orang tua kehilangan kewibawaan.

Tetapi hubungan mulai dibangun melalui kepercayaan dan percakapan.

Jangan hanya bertanya:

“Kamu dari mana?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang terjadi hari ini?”

Jangan hanya berkata:

“Jangan main HP terus!”

Sesekali tanyakan:

“Apa yang sedang kamu lihat di sana?”

Jangan hanya memeriksa kesalahannya.

Kenali pula kegelisahannya.

Sebab seorang remaja yang tidak menemukan tempat untuk bercerita di rumah, sangat mungkin mencari tempat lain untuk didengarkan.

Dan dunia digital selalu menyediakan banyak telinga.

Sayangnya, tidak semua telinga memiliki niat baik.

Maka jangan biarkan hubungan antara orang tua dan anak menjadi begitu jauh hanya karena kita terlalu sibuk menjadi hakim.

Jadilah tempat pertama yang ia datangi ketika dunia membuatnya bingung.

Zaman Boleh Berubah, Tetapi Anak Tetap Membutuhkan Orang Tua

Hari ini anak mungkin belajar dari YouTube.

Besok mungkin belajar dari kecerdasan buatan.

Hari ini ia bermain dengan teman di dunia maya.

Besok mungkin bekerja dalam ruang yang bahkan belum kita bayangkan.

Teknologi akan terus berubah.

Aplikasi akan berganti.

Tren akan datang dan pergi.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah berubah:

anak tetap membutuhkan cinta, arah, batas, teladan, dan tempat untuk pulang.

Karena itu, jangan mendidik anak dengan ketakutan terhadap zaman.

Jangan pula membiarkannya hanyut bersama zaman.

Bekali dia untuk menghadapinya.

Kita tidak harus menjadi lebih pintar daripada anak dalam menggunakan teknologi.

Tetapi kita harus berusaha menjadi lebih bijaksana dalam mengajarinya menggunakan teknologi.

Kita mungkin tidak tahu semua aplikasi yang ia gunakan.

Tetapi kita bisa mengajarinya tentang harga diri.

Kita mungkin tidak bisa melihat semua yang ia lihat di layar.

Tetapi kita bisa menanamkan hati yang mampu membedakan baik dan buruk.

Kita mungkin tidak bisa mengikutinya ke mana pun.

Tetapi kita bisa memberinya kompas yang akan bekerja bahkan ketika kita tidak berada di sampingnya.

Jangan Hanya Mengatur Anak, Bangun Kehidupan yang Membuatnya Tidak Ingin Melarikan Diri

Ada satu hal penting dalam mendidik anak zaman sekarang:

Jangan hanya mengambil handphone dari tangannya. Berikan sesuatu yang lebih berharga untuk mengisi tangannya.

Ajak ia berbicara.

Ajak olahraga.

Ajak membaca.

Ajak ke masjid.

Ajak membantu orang lain.

Ajak bepergian.

Ajak makan bersama tanpa layar.

Dengarkan ceritanya.

Kenalkan ia kepada alam.

Berikan pengalaman.

Berikan tanggung jawab.

Berikan kesempatan untuk gagal.

Berikan kesempatan untuk mencoba lagi.

Sebab jika dunia nyata di rumah terasa hambar, sementara dunia di layar terasa penuh warna, kita tidak perlu heran ketika anak lebih memilih layar.

Rumah harus menjadi tempat yang tidak ingin ditinggalkan oleh hati anak.

Pada Akhirnya, Pendidikan Adalah Perjalanan Melepaskan

Tujuh tahun pertama, kita mengajarkan:

“Kamu dicintai.”

Tujuh tahun berikutnya, kita mengajarkan:

“Kamu memiliki tanggung jawab.”

Tujuh tahun berikutnya, kita mengajarkan:

“Kamu dipercaya.”

Dan setelah itu?

Kita mulai belajar melepaskan.

Sebab anak bukanlah burung yang kita pelihara agar selamanya berada di dalam sangkar.

Ia adalah burung yang suatu hari harus terbang.

Tugas kita bukan memotong sayapnya agar ia tidak pergi.

Tugas kita adalah memastikan ketika ia terbang, ia tahu ke mana harus menuju.

Maka merajakan anak bukan berarti membiarkan ia memiliki segala sesuatu yang diinginkannya.

Merajakan adalah memberinya cinta yang membuat ia tahu bahwa dirinya berharga.

Mendidik bukan berarti menguasai setiap langkahnya.

Mendidik adalah memberinya batas agar ia tidak kehilangan jalan.

Dan menjadi sahabat bukan berarti membiarkan semua pilihannya.

Menjadi sahabat adalah tetap berada di sisinya ketika ia mulai belajar memilih jalannya sendiri.

Pada akhirnya, mungkin inilah hakikat menjadi orang tua:

Ketika anak masih kecil, kita adalah rumahnya.

Ketika ia mulai tumbuh, kita adalah pagarnya.

Ketika ia mulai dewasa, kita adalah tempat ia berteduh.

Dan ketika ia akhirnya terbang, kita menjadi doa yang diam-diam mengiringi sayapnya.

Karena anak tidak selamanya berada di dalam genggaman kita.

Suatu hari ia akan berjalan membawa namanya sendiri, memilih jalannya sendiri, dan menghadapi dunia dengan kedua kakinya sendiri.

Baca Juga : Jangan Menilai buku dari sampulnya

Maka sebelum hari itu tiba, tanamlah sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar aturan: tanamkan nilai.

Berikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar fasilitas: berikan teladan.

Dan berikan sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada sekadar nasihat: berikan kenangan tentang rumah yang selalu menjadi tempat untuk pulang.

Sebab zaman boleh berubah. Teknologi boleh berganti. Dunia boleh menjadi semakin cepat. Tetapi anak yang tumbuh dengan akar yang kuat tidak akan mudah tumbang hanya karena angin zaman bertiup lebih kencang.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Cara Mendidik Anak Di Zaman Sekarang ? "