Jangan Sebut Godaan Sebagai Takdir

 Tentang ketertarikan kepada orang lain setelah menikah, dan bagaimana kita sering lupa menghargai seseorang yang telah melihat seluruh sisi buruk kita

Ada satu hal yang sering manusia lakukan ketika hatinya mulai tertarik kepada seseorang yang bukan pasangannya:

Ia mencari nama yang indah untuk sesuatu yang sebenarnya sedang ia biarkan tumbuh.

Ia menyebutnya kenyamanan.

Ia menyebutnya kecocokan.

Ia berkata, “Entah kenapa, dia sangat mengerti aku.”

Jangan Sebut Godaan Sebagai Takdir
Jangan Sebut Godaan Sebagai Takdir


Lalu perlahan, ia mulai menyebutnya cinta.

Padahal belum tentu.

Sebab tidak semua rasa yang tumbuh harus dipelihara.
Tidak semua ketertarikan harus diikuti.
Dan tidak semua seseorang yang membuat jantung berdebar sedang membawa kita kepada sesuatu yang baik.

Kadang-kadang, yang datang setelah pernikahan bukanlah takdir baru.

Melainkan ujian terhadap takdir yang pernah kita pilih.


Kamu tidak tiba-tiba jatuh cinta. Kamu membiarkannya tumbuh.

Jarang sekali perselingkuhan dimulai dengan kalimat:

"Aku ingin menghancurkan rumah tanggaku."

Tidak.

Ia biasanya datang dengan sesuatu yang jauh lebih kecil.

Sebuah percakapan yang terlalu sering.

"Sudah makan?"

Kemudian menjadi:

"Kamu kenapa? Cerita saja kepadaku."

Lalu berubah menjadi tempat mencurahkan sesuatu yang seharusnya hanya diketahui oleh pasangan.

Dari sana lahir kedekatan.

Dari kedekatan lahir kenyamanan.

Dari kenyamanan lahir perbandingan.

Dan dari perbandingan, seseorang mulai melihat pasangannya sendiri dengan mata yang berbeda.

"Istriku terlalu keras. Dia begitu lembut."

"Suamiku tidak pernah mengerti aku. Dia selalu tahu bagaimana membuatku merasa dihargai."

Padahal ada sesuatu yang sering kita lupakan:

Kita sedang membandingkan seseorang yang hanya kita lihat dalam beberapa halaman terbaiknya, dengan seseorang yang telah kita baca sampai seluruh bab buruknya.

Itu perbandingan yang tidak adil.


Kamu melihat dia ketika wangi. Pasanganmu kamu lihat ketika lelah.

Orang baru itu mungkin selalu rapi.

Wanginya menyenangkan.

Bicaranya lembut.

Pesannya membuatmu tersenyum.

Ia tahu kapan harus memuji.

Ia tahu bagaimana membuatmu merasa istimewa.

Tetapi kamu belum pernah melihatnya ketika hidup sedang menghantamnya.

Kamu belum melihatnya ketika ia kelelahan.

Belum melihatnya ketika uang sedang tidak ada.

Belum melihat bagaimana ia bersikap ketika sakit.

Belum melihat bagaimana ia menghadapi masalah rumah tangga.

Belum melihat bagaimana ia bertahan ketika keadaan tidak sesuai keinginannya.

Sedangkan pasanganmu?

Kamu sudah melihat semuanya.

Kamu melihat wajahnya ketika bangun tidur.

Kamu melihat rambutnya yang berantakan.

Kamu mendengar omelannya ketika lelah.

Kamu tahu bagaimana ia ketika sedang marah.

Kamu tahu kekurangannya.

Kamu tahu kebiasaannya.

Kamu bahkan tahu sisi dirinya yang mungkin tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.

Dan anehnya, setelah mengetahui semua itu, ia masih memilih tinggal bersamamu.


Jangan tukarkan berlian dengan sesuatu yang hanya berkilau dari kejauhan.

Ada benda yang terlihat indah karena memang indah.

Tetapi ada pula benda yang terlihat berharga hanya karena kita belum pernah memilikinya.

Begitulah godaan bekerja.

Ia memperlihatkan sesuatu dari kejauhan.

Mengilapkannya.

Membuat kita lupa bahwa sesuatu yang baru selalu terlihat lebih menarik karena kita belum mengetahui cacatnya.

Kita mulai bosan dengan rumah sendiri, lalu mengira rumah orang lain lebih indah hanya karena kita tidak pernah melihat bagaimana atapnya bocor.

Kita mulai jenuh dengan pasangan, lalu mengira orang lain lebih sempurna hanya karena kita belum pernah melihat bagaimana ia menangis.

Kita ingin meninggalkan sesuatu yang sudah menemani perjalanan panjang, hanya demi sesuatu yang baru saja membuat mata kita tertarik.

Itulah mengapa godaan sering datang bukan dalam bentuk keburukan, tetapi dalam bentuk sesuatu yang tampak lebih indah daripada apa yang sudah kita miliki.


Setiap rumah akan melewati musim yang hambar.

Jangan kira rumah tangga akan selalu dipenuhi kupu-kupu di dalam perut.

Ada hari ketika pesan pasangan tidak lagi membuatmu berdebar.

Ada malam ketika percakapan hanya berisi pekerjaan, tagihan, anak, dan urusan rumah.

Ada masa ketika dua orang yang dulu tidak bisa berhenti berbicara justru lebih banyak diam.

Ada fase ketika cinta tidak terasa seperti api.

Hanya seperti bara kecil yang diam-diam masih menyala.

Dan di situlah kedewasaan diuji.

Sebab anak-anak bisa berpindah ketika bosan.

Orang yang belum matang bisa mencari sesuatu yang baru setiap kali sesuatu yang lama kehilangan rasa.

Tetapi orang dewasa belajar sesuatu yang lebih sulit:

Tidak semua yang terasa hambar harus ditinggalkan.

Kadang yang perlu dilakukan bukan mencari rumah baru.

Melainkan menyalakan kembali lampu di rumah yang mulai gelap.


Kalau ada yang terasa hilang, jangan langsung mencari pengganti. Cari sumber kehilangan itu.

Jika kamu mulai tertarik kepada orang lain, jangan buru-buru menyebutnya cinta.

Berhentilah.

Tanyakan kepada dirimu sendiri:

"Apa yang sedang terjadi dalam rumah tanggaku?"

Mungkin ada komunikasi yang terputus.

Mungkin ada perhatian yang berkurang.

Mungkin ada luka yang tidak pernah dibicarakan.

Mungkin kalian terlalu lama menjadi pasangan dalam urusan rumah, tetapi lupa menjadi kekasih dalam urusan hati.

Mungkin kalian sudah terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa menikmati hidup bersama.

Maka bicarakan.

Duduk berdua.

Pergilah bersama.

Berdoalah bersama.

Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Sebab ketika ada celah kecil di dinding rumah, orang bijaksana tidak langsung mencari rumah baru.

Ia menutup celah itu sebelum hujan masuk.


Perselingkuhan hampir tidak pernah dimulai dari ranjang.

Ia bisa dimulai dari sebuah pesan.

Dari perhatian yang diberikan kepada orang yang bukan pasangan.

Dari percakapan yang sengaja disembunyikan.

Dari curhat yang terlalu dalam.

Dari kalimat:

"Kita cuma teman."

Dari rasa nyaman yang perlahan mulai lebih besar daripada batas yang seharusnya.

Kemudian seseorang mulai menunggu pesan itu.

Mulai mencari alasan untuk bertemu.

Mulai menyembunyikan percakapan.

Mulai membandingkan pasangannya.

Dan pada titik tertentu, ia sadar:

Yang awalnya hanya ingin mencari tempat bercerita ternyata telah membuatnya memiliki tempat lain untuk pulang.

Padahal ia masih memiliki rumah.


Jangan mencari manusia sempurna dari rumah tangga yang nyata.

Pasanganmu bukan malaikat.

Ia manusia.

Ia bisa berubah.

Ia bisa lelah.

Ia bisa marah.

Ia bisa mengecewakanmu.

Ia bisa memiliki banyak kekurangan.

Tetapi ingat:

kamu juga manusia.

Dan mungkin ada banyak hal tentang dirimu yang telah ia maafkan tanpa pernah diumumkan.

Ada hari ketika ia harus menahan kecewa demi mempertahankan rumah.

Ada kesalahanmu yang mungkin ia simpan agar tidak menjadi alasan untuk meninggalkanmu.

Ada sisi burukmu yang ia kenal, tetapi tetap ia pilih untuk cintai.

Maka jangan tuntut pasanganmu menjadi manusia tanpa cela, sementara kamu sendiri ingin dicintai dengan seluruh kekuranganmu.

Pernikahan bukan pertemuan dua manusia sempurna.

Pernikahan adalah pertemuan dua manusia yang sama-sama tidak sempurna, lalu memilih untuk belajar menjadi lebih baik bersama.


Dan jika hari ini seseorang terlihat lebih menarik daripada pasanganmu...

Jangan langsung mengikuti perasaan itu.

Tidak semua perasaan harus dipercaya.

Tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Ada rasa yang cukup disadari, lalu ditinggalkan.

Ada pintu yang harus ditutup sebelum kita terlalu jauh masuk.

Jika seseorang mulai membuatmu lupa pada pasanganmu, mundurlah.

Jika percakapan mulai terasa terlalu nyaman, batasi.

Jika hati mulai membandingkan, berhenti.

Jika godaan mulai terasa seperti cinta, ingatlah bahwa setan pun tidak selalu datang membawa sesuatu yang terlihat buruk.

Kadang ia datang membawa sesuatu yang sangat indah.

Agar kita sendiri yang membuka pintunya.


Mungkin malam ini, sebelum mencari seseorang yang membuat jantungmu kembali berdebar, lihatlah orang yang tidur di sebelahmu.

Orang yang mungkin sudah tidak lagi membuatmu gugup seperti dulu.

Tetapi pernah memilihmu ketika ia bisa memilih yang lain.

Orang yang telah melihat wajahmu ketika kamu gagal.

Yang tahu bagaimana buruknya sifatmu.

Yang pernah menangis karena kesalahanmu.

Yang mungkin pernah kecewa berkali-kali.

Tetapi masih berusaha memperbaiki rumah yang sama.

Lihatlah dia.

Mungkin yang hilang bukan cintanya.

Mungkin yang hilang adalah caramu melihatnya.

Dan sebelum mengatakan,

"Aku sudah tidak mencintainya lagi,"

tanyakan terlebih dahulu:

"Apakah aku benar-benar sudah kehilangan cinta, atau aku hanya terlalu lama berhenti merawatnya?"

Sebab cinta yang matang tidak selalu membuat dada berdebar.

Kadang ia hanya membuat hati berkata:

"Di antara begitu banyak manusia di dunia ini, aku masih memilih pulang kepadamu."

Itulah cinta yang telah melewati ujian.

Jika Kamu merasa Artilel ini menari

Mungkin kamu juga cocok untuk membaca :

Jangan Menilai buku dari sampulnya

Bukan cinta yang sekadar membuatmu deg-degan.

Tetapi cinta yang membuatmu tenang.

Dan mungkin, setelah semua riuh godaan itu selesai, kita akhirnya memahami:

yang paling indah bukanlah seseorang yang membuat kita lupa pada rumah.

Melainkan seseorang yang membuat kita semakin bersyukur
bahwa kita masih memiliki tempat untuk pulang.

Posting Komentar untuk "Jangan Sebut Godaan Sebagai Takdir"