Kalau semua sudah selesai, kita akan pulang ke mana?
Kalau semua sudah selesai, kita akan pulang ke mana?
Setiap pagi kita berangkat dengan daftar pekerjaan yang panjang. Kita mengejar waktu, mengejar impian, mengejar dunia yang seolah tak pernah selesai. Kita berkata, "Sebentar lagi." Sebentar lagi sukses. Sebentar lagi tenang. Sebentar lagi bahagia.
Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang sempat mengucapkan, "Sebentar lagi."
Ada yang berpamitan pagi hari, tetapi tidak pernah kembali menjelang senja.
![]() |
| Kalau semua sudah selesai, kita akan pulang ke mana? |
Ada yang menutup pintu rumah dengan janji akan segera pulang, tetapi ternyata kepulangannya bukan menuju rumah yang ia tinggalkan, melainkan menuju hadapan Rabb semesta alam.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan, hingga lupa mempersiapkan kepulangan.
Padahal dunia hanyalah ruang tunggu yang indah sekaligus menipu. Kita menghiasnya sedemikian rupa, seakan-akan akan tinggal selamanya. Kita memperbaiki rumah, mempercantik kendaraan, menjaga nama baik di hadapan manusia. Tetapi sering kali lupa memperbaiki hati yang kelak akan dibawa pulang.
Kematian bukanlah lawan dari kehidupan.
Ia adalah pintu menuju kampung yang sesungguhnya.
Karena itu, pertanyaan terbesar bukanlah, "Kapan aku mati?" Melainkan, "Dalam keadaan seperti apa aku ingin pulang?"
Betapa indah jika suatu hari nanti Allah memanggil kita ketika lisan masih basah dengan zikir, ketika tangan masih gemar berbagi, ketika hati telah selesai memaafkan, dan ketika masih ada doa-doa baik yang terus mengalir dari orang-orang yang pernah kita bahagiakan.
Bukankah setiap musafir merindukan perjalanan yang berakhir dengan selamat?
Lalu mengapa kita tidak merindukan kematian yang indah?
Kematian yang tidak membuat kita menyesal karena terlalu sedikit bersujud. Kematian yang tidak membuat kita menangis karena terlalu banyak menyakiti. Kematian yang datang saat hati telah berdamai dengan takdir dan telah menitipkan cinta kepada Allah lebih besar daripada cinta kepada dunia.
Mungkin itulah makna pulang yang sebenarnya.
Bukan sekadar kembali ke sebuah alamat.
Tetapi kembali kepada Dia yang sejak awal telah memiliki kita.
Sebab sejauh apa pun kaki melangkah, setinggi apa pun mimpi diterbangkan, dan selama apa pun perjalanan ditempuh, pada akhirnya setiap manusia hanya sedang berjalan menuju satu tujuan.
Baca Juga :
Hidup Seperti Buku yang Ditulis oleh Waktu
Pulang.
Semoga ketika hari itu tiba, kita tidak pulang dengan tangan kosong.
Semoga kita pulang membawa sujud yang tulus, air mata taubat yang diterima, hati yang bersih, dan amal yang menjadi cahaya di perjalanan terakhir.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita tinggal di dunia yang akan dikenang oleh langit.
Melainkan seberapa indah cara kita mempersiapkan kepulangan.

Posting Komentar untuk "Kalau semua sudah selesai, kita akan pulang ke mana?"